|
|
“Bu, Bapak kok tidur nggak bangun-bangun, ya!” kata Yana.
“Hah? Masa!” Ibu kaget dan langsung berlari ke kamar melihat bapak.
Di kamar bapak pingsan, di sampingnya tergeletak gelas yang tumpah, tampaknya sebelum tumpah gelas itu berisi larutan hijau dengan serat-serat tanaman.
“Pak…..pak…. bangun, pak!!!”
Ibu ingat, Bapak memang punya riwayat hipertensi dan telah minum obat medis, tapi menurut Bapak masih belum memuaskan, jadi Beliau putuskan untuk memakai obat herbal dalam jumlah yang banyak.
Penggalan kisah di atas, bisa saja terjadi dalam kehidupan nyata. Mengapa hal ini terjadi? Apa hubungannya dengan larutan yang sebelumnya diminum? Berikut kami uraikan hal-hal mengenai efek samping obat herbal.
Beberapa tahun belakangan ini terapi herbal menjadi alternatif penyembuhan penyakit. Kendati berbahan alami, terapi herbal bukan tanpa efek samping.
Dokter yang juga herbalis dari Jakarta, Anton Budiono mengemukakan mengenai obat herbal. Katanya, herbal memang potensial sebagai obat, karena warisan alam ini akan menjadi pilar terapi masa depan. Namun sayang, kekayaan herbal Indonesia belum semuanya teruji kelayakannya sebagai bahan terapi. Juga, karena herbal belum pernah secara khusus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan dokter di sini, sehingga masih sulit untuk menstandarisasikannya.
Contoh-contoh penggunaan tanaman obat yang perlu diperhatikan :
- Daun Seledri (Apium graviolens)
Tanaman ini telah terbukti mampu menurunkan tekanan darah, tetapi pada penggunaannya harus berhati-hati karena pada dosis berlebih (over dosis) dapat menurunkan tekanan darah secara drastis sehingga jika penderita tidak tahan dapat menyebabkan shock. Oleh karena itu dianjurkan agar jangan mengkonsumsi lebih dari satu gelas perasan seledri untuk sekali minum.
- Gambir.
Gambir umum digunakan untuk menghentikan diare. Akan tetapi penggunaan lebih dari ukuran satu ibu jari justru bukan hanya menghentikan diare tetapi akan menimbulkan kesulitan buang air besar selama berhari-hari.
- Minyak Jarak (Oleum recini)
Minyak ini biasa digunakan untuk mengobati urus-urus. Akan tetapi jika penggunaannya tidak terukur akan menyebabkan iritasi saluran pencernaan.
- Kecibeling (Strobilantus crispus)
Tanaman ini digunakan untuk mengobati batu ginjal. Akan tetapi jika pemakaian melebihi 2 gram serbuk sekali minum, bisa menimbulkan iritasi saluran kemih. Selain itu, pada beberapa pasien yang mengonsumsi kecibeling untuk mengobati sakit batu ginjal, ternyata ditemukan adanya sel-sel darah merah dengan jumlah melebihi batas normal pada urinenya. Kemungkinan hal ini disebabkan daun kecibeling merupakan diuretik kuat sehingga dapat menimbulkan iritasi pada saluran kemih. Akan lebih tepat bagi mereka jika menggunakan daun kumis kucing (Ortosiphon aristatus) yang efek diuretiknya lebih ringan dan dikombinasi dengan daun tempuyung (Sonchus arvensis) yang tidak mempunyai efek diuretik kuat tetapi dapat melarutkan batu ginjal berkalsium.
"Efek toksik obat herbal bisa dihindari jika cara pemakaian benar dan sudah diuji praklinik dan uji klinik, seperti dilakukan pada obat konvensional," kata Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Rifatul Widjhati, Minggu (16/9) di Jakarta. Untuk menghindari ekses pada obat herbal, Badan POM mendorong uji khasiat dan keamanan sebelum obat herbal dapat izin edar. Hingga kini, jumlah obat herbal terstandar 19 produk dan fitofarmaka baru 5 produk.
Standardisasi obat herbal lebih tepat dilakukan jika diterapkan kaidah "Cara yang Benar" pada proses pembibitan hingga produksi. "Dalam rangka harmonisasi obat tradisional tingkat ASEAN, pemerintah perlu melakukan standardisasi obat herbal untuk menjamin mutu dan keamanan produk, di antaranya diuji toksisitasnya dan uji klinik," ujar Charles Saerang, Ketua Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia.
Pengusaha jamu Irwan Hidayat menambahkan, sejauh ini mayoritas perusahaan jamu telah memproduksi jamu berdasarkan referensi berstandar internasional sesuai dengan aturan Badan POM. "Jika ada obat herbal di luar referensi, bisa diuji toksisitasnya untuk meningkatkan kepercayaan konsumen," kata Irwan. (SMSMS)
kompas.co.id
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=120307
Categories: Medicina